You are using an outdated browser. For a faster, safer browsing experience, upgrade for free today.

Destinasi Wisata Rendah Karbon: Integrasi Budaya, Alam, dan Keberlanjutan

Oleh: Eva Rachmawati

Rp66,000
Beli Versi Digital
Stock status:
Tersedia
Bagikan:

Buku ini membahas bagaimana pariwisata dapat terus berkembang tanpa merusak lingkungan. Di tengah krisis iklim global yang semakin mengkhawatirkan, sektor pariwisata justru menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar, menyumbang antara 8% hingga 8,8% dari total emisi gas rumah kaca dunia. Transportasi, akomodasi, atraksi, aktivitas, dan amenitas wisata secara kolektif meninggalkan jejak karbon yang mengancam keberlanjutan bumi. Namun, apakah berarti pariwisata harus dihentikan? Buku ini menjawab tidak. Sebaliknya, penulis mengajak pembaca untuk mengubah cara berwisata menjadi lebih ramah lingkungan melalui konsep Wisata Rendah Karbon (Low Carbon Tourism).
Apa yang membuat buku ini istimewa adalah pengintegrasian kearifan lokal masyarakat Sunda sebagai fondasi utama pengembangan wisata rendah karbon. Masyarakat Sunda, dengan falsafah hidupnya yang harmonis dengan alam, menyimpan warisan pengetahuan ekologis yang luar biasa. Konsep Leuweung Tutupan (hutan larangan), Leuweung Baladahan (hutan produksi terbatas), Kebon Talun (kebun hutan), dan Huma (ladang berpindah) membentuk sistem zonasi alami yang secara cerdas menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestari-an. Falsafah Tri Tangtu di Buana mengajarkan harmoni antara Tuhan, manusia, dan alam. Nilai Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh memperkuat solidaritas sosial dalam menghadapi tantangan lingkungan. Kearifan lokal ini bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan panduan ekologis yang sangat relevan untuk masa depan.
Buku ini disusun secara sistematis untuk membawa pembaca memahami secara utuh konsep wisata rendah karbon. Bab pertama membahas nilai-nilai kebudayaan Sunda yang dapat dijadikan modal untuk konservasi sumber daya alam. Penulis mengupas tuntas berbagai praktik tradisional seperti pamali (larangan adat), mapag cai (ritual penyambutan air), gotong royong (sabilulungan), serta sistem pertanian tradisional ngahuma dan ngababakan yang terbukti menjaga kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati.
Bab kedua mengupas secara mendalam bagaimana setiap komponen wisata menghasilkan emisi karbon. Penulis menjelaskan dengan lugas bahwa aksesibilitas melalui transportasi wisatawan adalah penyumbang emisi terbesar, diikuti oleh konsumsi energi di akomodasi, operasional atraksi wisata, pola aktivitas wisata, serta berbagai fasilitas amenitas seperti kuliner, toilet, dan souvenir. Pembaca diajak untuk memahami bahwa emisi tidak hanya berasal dari pembakaran bahan bakar secara langsung, tetapi juga dari emisi tersembunyi (embodied carbon) pada material bangunan, rantai pasok makanan, serta pengelolaan limbah.
Bab ketiga, yang merupakan inti dari buku ini, menyajikan strategi praktis untuk mengurangi emisi dari masing-masing komponen wisata. Pada aspek aksesibilitas, penulis merekomendasikan penerapan sistem transportasi bersama (pool transportation), penggunaan moda transportasi non-motorik seperti sepeda dan delman, optimalisasi logistik, serta program carbon offset berbasis penanaman pohon. Pada aspek akomodasi, pembaca diajak untuk membangun homestay dengan arsitektur tradisional yang mengutamakan ventilasi alami, penggunaan material lokal seperti bambu dan kayu, serta pengelolaan limbah terpadu. Pada aspek atraksi, penulis mendorong pengutamaan kesenian tradisional yang tidak bergantung pada listrik, penggunaan dekorasi alami, serta penerapan sistem zero waste tourism site. Pada aspek aktivitas, buku ini memperkenalkan konsep slow tourism dan prinsip leave-no-trace sebagai panduan berwisata yang bertanggung jawab. Pada aspek amenitas, penulis memberikan panduan tentang penggunaan bahan pangan lokal, penyajian ramah lingkungan dengan daun pisang dan anyaman bambu, serta pengembangan souvenir berbahan lokal yang bermanfaat. Buku ini ditujukan untuk berbagai kalangan: pengelola destinasi wisata, akademisi, praktisi pariwisata, mahasiswa, serta masyarakat umum yang peduli terhadap kelestarian alam dan budaya.
Lebih dari sekadar buku panduan teknis, karya ini adalah sebuah gerakan kesadaran. Penulis dengan tegas menyatakan bahwa menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung ja-wab bersama. Dengan memadukan budaya dan ilmu pengetahuan, desa-desa wisata dapat menjadi pusat perubahan yang menjaga alam sekaligus memperkuat identitas budayanya. Buku ini membuktikan bahwa perjalanan wisata yang sederhana, sadar lingkungan, dan berakar pada kearifan lokal dapat menjadi bagian dari solusi atas krisis iklim, bukan justru menjadi sumber masalah.
Pada bagian akhir, buku ini menyajikan kesimpulan dan rekomendasi strategis bagi pengembangan wisata rendah karbon ke depan, termasuk penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan sistem pengukuran emisi, integrasi kebijakan, program edukasi, serta penguatan riset dan pengembangan model berbasis kearifan lokal.
Dengan membaca buku ini, pembaca tidak hanya akan memperoleh pemahaman tentang bagaimana pariwisata dapat berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan, tetapi juga akan tersadar bahwa kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur adalah jawaban atas tantangan masa depan. Sebagaimana pesan yang disampaikan penulis: "Alam téh sakola anu teu pernah tutup, manusa téh murid anu kudu terus diajar" (Alam adalah sekolah yang tak pernah tutup, manusia adalah murid yang harus terus belajar).

Ukuran14.00 x 21.00
Halaman171
Tahun Terbit2026
PenulisEva Rachmawati
PenerbitElementa Media Literasi
ISBN978-634-313-035-2
e-ISBN978-634-313-038-3

Produk rekomendasi